Ramuan Tenun Gedog-Batik ala Yogiswari Prajanti

Jika Tuban dan Jepang Bergaya Syar’i
November 26, 2015
Cerianya Paduan Tenun Jepara dan Tenun Ikat Adonara Dalam Busana Harian
April 9, 2016

Ramuan Tenun Gedog-Batik ala Yogiswari Prajanti

JAKARTA – Tenun gedog diramu dengan batik? Hasilnya ternyata cantik dan unik. Ramuan inilah yang ditawarkan perancang busana Yogiswari Prajanti untuk pecinta mode Indonesia. Karyanya berjudul ‘Gedoglicious’ diperagakan di Kembang Goela Cafe, Jakarta, Rabu (25/11).

“Koleksi ini sebelumnya sudah saya peragakan di Mercedes Benz Stylo Asia Fashion Week 2015 yang baru berlangsung 4-7 November 2015 lalu di Kuala Lumpur, Malaysia,” kata Yogiswari Prajanti ditemui Investor Daily di sela peragaan.

Busana muslim ia pilih untuk peragaan tersebut, mengingat pasar busana muslim di Negeri Jiran itu yang begitu besar. “Pasar busana muslim di Malaysia cukup menjanjikan. Lagipula desainnya tidak keluar dri karakter busana yang biasa saya desain,” kata perancang yang mulai mendesain sejak 2010 dan baru menggelar peragaan busana pada 2014.

Sejak terjun di profesi perancnag busana, Yogiswari teru konsisten menggunakan wartra (kain) Nusantara. “Awalnya saya menggunakan batik, seperti Cirebon, Garut, Solo, dan lain-lain, tapi belakangan saya menggunakan wastra Nusantara lainnya, seperti tenun dan songket,” ungkap Yogiswari.

Khusus untuk ‘Gedoglicious’ ini, Yogiswari jatuh cinta pada tenun gedog. Tenun gedog adalah tenun yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. “Disebut gedog karena prosesnya menimbulkan bunyi dog…dog…dog…,” tutur insinyur teknik sipil dari Teknik Arsitektur, Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya yang kemudian mengambil kursus merancang di ESMOD Jakarta.

Koleksinya ini cukup unik, karena Yogiswari tak serta merta menggunakan tenun gedog saja. Dia juga membatik tenun gedog itu. “Jadi prosesnya setelah kain ditenun menjadi tenun gedog, lalu kain tersebut dibatik,” kata Yogiswari.

Proses itu tentu saja menghasilkan kain yang unik dan berbeda dengan tampilan batik biasanya.

Kain-kain itu kemudian dirancang dengan siluet yang dominan dekonstruktif, banyak bermain potongan serong, dan asimetris. Dia juga mengombinasikan kain tenun gedog yang dibatik itu dengan kain batik. “Siluetnya asimetrik, pecah pola agak serong, dekonstruktif agak miring,” ungkap Yogiswari.

Untuk warna, Yogiswari tak hanya bermain di seputar warna gelap seperti coklat dan sogan. Beberapa juga berwarna cerah, seperti merah, pink, dan biru.

Investor Daily

Mardiana Makmun/MAR

Investor Daily

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *